Jabat tanganku
Mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang
Tentang memori di masa itu
”Akhirnya… kita harus pisah.”
”Ya.”
“Ehm… Moga-moga, kita bisa ketemu lagi…”
”Aku harap juga gitu, Cherry…”
Mereka berjabat tangan. Cherry tersenyum pahit. Belum. Ia belum mau berpisah dengan orang yang duduk di sampingnya sekarang ini. Tidak sekarang. Mengapa harus ada perpisahan?
Saat orang yang duduk di sampingnya itu berdiri, Cherry langsung memegang lengan orang itu dan ikut berdiri.
”Pu… Tra…” Airmata mulai membanjiri wajah gadis itu. Kenapa? Kenapa harus berpisah?! Aku gak mau pisah sama kamu…
Peluk tubuhku
Resapkan juga airmataku
Kita terharu
Seakan tiada bertemu lagi
Putra mengusap wajah Cherry dengan sangat lembut. Dalam hati, Cherry mengeluh. Kenapa lagu yang mereka nyanyiin sama dengan keadaanku sekarang?!
”Jangan nangis, Cher… Cengeng kamu,” Putra mencoba bercanda, namun gagal. Isakan Cherry malah semakin keras. Putra jadi salah tingkah.
”Cherry… Cher… Kenapa, sih??”
“Apa… apa gak bisa…” Tiara berucap di sela-sela isakannya. ”kamu kuliah di sini aja? Gak usah… keluar kota segala…”
”Hei, hei, hei…” Putra menghapus airmata Cherry, lagi. ”Kamu kenapa?”
”Makanya aku benci memulai pertemuan! Karena setelah pertemuan, pasti ada perpisahan! Tapi aku gak mau pisah sama kamu, sama kalian semua! Temen-temen SMA yang paling aku sayang… kenapa harus pisah…?”
Tak tahan lagi, Putra menarik Cherry ke dalam pelukannya. Keadaan di sekitar mereka seakan sepi. Di telinga mereka hanya terdengar isakan kecil Cherry. Padahal suara Ando, vokalis Glasio Band dan suara alat musik sangat keras. Belum lagi dengan celotehan orang-orang di dalam hall sekolah ini.
”Sayangnya, Cher… gak bisa…” bisikan dari Putra itu malah membuat isakan Cherry yang mulai menghilang menjadi lebih keras.
Sampai jumpa kawanku…
Smoga kita selalu…
Menjadi sebuah kisah klasik
Untuk masa depan…
Putra melepaskan pelukannya begitu melihat seseorang yang berdiri di pintu masuk hall.
”Aku… udah dijemput,” ucap cowok itu pelan dengan suara tercekat. ”Aku… pergi sekarang, Cher…”
”Putra…” Cherry mencoba mempertahankan tangan cowok itu, namun cowok itu terus melawan. Cherry ingin mengatakn sesuatu yang selama ini terus ia pendam dalam hati, namun tak bisa. Setiap kali ia akan mengucapkannya, kata-kata itu terasa nyamgkut di ujung lidah. Lidahnya menjadi kelu. Seakan-akan kata-kata itu memang tidak ingin keluar, cukup disimpan di hati saja.
”Cherry… aku udah ditunggu…”
Cherry melirik pintu. Laki-laki dengan pakaian resmi itu berkali-kali melihat jam tangannya. Cherry menarik napas. Mungkin… aku memang harus biarin dia pergi…
Ka… kalo gitu…” Cherry berusaha membuat agar suaranya terdengar ceria. ”Aku minta foto kamu, ya! Terus… terus… kita foto berdua! Ngg… Pake handphone-ku,” Cherry mengeluarkan ponselnya dari saku jinsnya. Putra menatap Cherry sebentar dengan pandangan heran. Namun, ia tetap melaksanakan kemauan gadis itu.
Setelah mengambil lima gambar Putra plus enam kali foto berdua, akhirnya Cherry harus membiarkan Putra pergi.
”Bubbye… Cherry…”
Dan… Akhirnya Putra berjalan menuju lelaki itu.
Berjalan… menjauh meninggalkan Cherry…
Sesekali, Putra memandang keadaan sekeliling. Ada sesuatu dalam hatinya yang merasa keberatan untuk pergi dari tempat ini. Namun, perasaan itu segera disingkirkannya jauh-jauh. Keputusannya sudah bulat. Ia akan pergi, meninggalkan kota dan sekolah yang penuh kenangan ini…
Mungkin untuk selamanya…
Sementara di tengah ruangan, Cherry meneteskan airmata dalam diam. Diam untuk merelakan seuatu itu pergi…
Mungkin diriku
Masih ingin bersama kalian…
Mungkin jiwaku
Masih haus sanjungan kalian…
***
”Mau ke mana?”
”Pergi?”
”Iya… Tapi ke mana?”
”Ke mana aja. Lo gak perlu tau.”
Dan, sebelum Karin bertanya-tanya lagi, Cherry mempercepat langkahnya meninggalkan sekolah.
”Rin,” Sapa Vanya yang menghampirinya. ”Cherry ke mana? Gak mau foto-foto dulu sama guru?”
Karin menggeleng pelan. “Kayaknya tuh anak lagi sedih, deh. Apa gara-gara mau pisah sama si Putra, ya?”
“Kalo cuman karena itu, kenapa mesti sedih? Mereka kan, gak punya hubungan apa-apa. Kalo misalnya gue sama Thio yang mau pisah, baru deh harus ada yang sedih. Ya, gue ini..” cerocos Vanya panjang lebar. Karin menggeleng-gelengkan kepala dan mencubit lengan temannya itu.
”Lo tuh, ya! Sama sobat sendiri… gak perhatian bener, sih?! Kan kita sama-sama tau kalo dari dulu, Cherry tuh naksir berat sama Putra!”
“Trus? Kan Putra juga tau kalo Cherry naksir dia?”
“Iya… Tapi Putra cuman anggap itu gosip. Putra kan belom denger langsung dari mulut Cherry…” Mati-matian Karin menahan sabar saat berbicara dengan sobatnya yang satu ini. Pikirnya, semua masalah tuh gak akan berlangsung lama. Semua harus dibiarin ngalir gitu aja tanpa ada penyelesaian yang jelas. Aneh banget tuh anak…
“Iya juga, sih…” Vanya tercenung mendengar penjelasan Karin yang emang sangat benar. Cherry suka Putra, tapi dia gak pernah bilang langsung. Putra tau kalo Cherry suka dia, tapi itu dari mulut anak-anak sekelas… Hmm…
“Ah… Gue punya ide, Rin!” Tiba-tiba Vanya menjentikkan jarinya. Karin langsung mendekat penuh semangat.
“Apa?”
Vanya tersenyum misterius seraya memikirkan idenya ini. Semoga saja berhasil…
Bersambung





Ada salah-ketik tokohnya tuh…
Harusnya Cherry, kq bisa ada Tiara?!
Ditunggu lanjutannya yha? Harus lebih teliti dikit lg