Hanya Ingin Kau Tahu – Repvblik

Ku telah miliki
Rasa indahnya perihku
Rasa hancurnya harapku
Kau lepas cintaku

Rasakan abadi
Sekalipun kau mengerti
Sekalipun kau pahami
Ku pikir ku salah mengertimu

Aku hanya ingin kau tahu
Besarnya cintaku
Tingginya khayalku bersamamu

Tuk lalui waktu yang tersisa kini
Di setiap hariku
Di sisa akhir nafas hidupku

ow wooo wo wo wo

Walaupun semua hanya ada dalam mimpiku
Hanya ada dalam anganku
Melewati hidup

Rasakan abadi
Sekalipun kau mengerti
Sekalipun kau pahami
Ku pikir ku salah mengertimu

Aku hanya ingin kau tahu
Besarnya cintaku
Tingginya khayalku bersamamu

Tuk lalui waktu yang tersisa kini
Di setiap hariku
Di sisa akhir nafas hidupku

Aku hanya ingin kau tahu
Besarnya cintaku
Tingginya khayalku bersamamu

Tuk lalui waktu yang tersisa kini
Di setiap hariku
Di sisa akhir nafas hidupku

(Bener-bener pas sama PoeTry. PoeTry cuman pingin, sebelum pisah dengan dia, dia bisa tau perasaan PoeTry yang sebenarnya… yang udah PoeTry pendam selama tiga tahun ke dia… yang tak mungkin membaca ini.)

_*_PoeTry~4u_*_

Diterbitkan di: on Juni 19, 2007 at 2:39 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah Kisah Klasik – Sheila On 7

Jabat tanganku
Mungkin untuk yang terakhir kali
Kita berbincang
Tentang memori di masa itu

Peluk tubuhku
Resapkan juga airmataku
Kita terharu
Seakan tiada bertemu lagi

Bersenang-senanglah
Karena hari ini akan kita rindukan
Di hari nanti
Sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Karena waktu ini akan kita banggakan
Di hari tua…
ooooh…

Sampai jumpa kawanku…
Smoga kita selalu…
Menjadi sebuah kisah klasik
Untuk masa depan…

Mungkin diriku
Masih ingin bersama kalian…
Mungkin jiwaku
Masih haus sanjungan kalian…

(Persembahan khusus untuk semua teman-teman PoeTry di IsMud PG-X. Tinggal nunggu penguman UN aja, guys… Dan kita bakal berpencar. Love you all…)

_*_PoeTry~4u_*_

Janji

“Yudha gak mau tidur kalo Papa sama Mama belum pulang! Huh!”

”Yudha sayang… Papa sama Mama pulangnya masih lama…”

”Biarin! Huh… Kak Mella keluar aja, deh! Sana, sana!”

Akhirnya Kak Mella keluar juga dari kamar Yudha. Huh… Dasar Kak Mella! Mau aja disuruh Papa Mama jagain Yudha. Padahal kan, Yudha bukan anak dia! Yudha anaknya Papa sama Mama. Jadi, yang harus jagain Yudha itu Papa Mama, bukannya Kak Mella. Huh!

Yudha tunggu Papa Mama pulangnya di ruang tamu aja, ah! Yudha sebel sama Papa Mama. Papa Mama selalu aja kerja. Cuma sempet nganterin Yudha sekolah, tapi gak pernah ada di rumah pas Yudha pulang. Yudha selalu aja pulang sekolah dijemput sama Kak Mella. Kalo mau makan sama Kak Mella. Tidur sama Kak Mella. Main-main sama Kak Mella. Semuanyaaa sama Kak Mella. Ih… Yudha sebel, sebel, sebel!

Yudha iri deh, sama temen-temen yang lain. Mereka selalu pergi sekolah sama Mamanya. Pulang sekolah dijemput sama Mamanya. Kalo ada pertemuan acara sekolah, orangtuanya juga ikut datang. Tapi…Mama sama Papa Yudha gak pernah kayak orangtua mereka! Mama Papa Yudha jahat, cuman mikirin diri sendiri! Emangnya Yudha ini anak Kak Mella, apa?!

Pokoknya, Yudha harus nunggu Papa sama Mama pulang dari kantor! Biarin aja Yudha gak tidur. Yang penting, hari ini Yudha bisa nunjukin ke Papa Mama kalo ulangan Yudha sepuluh semua hari ini. Apalagi ulangan matematikanya. Yudha bener semua! Yudha udah tau kalo 2×2=4, 3×4=12, sama 2×5=10. Yudha juga harus kasih undangan acara ulangtahun sekolah minggu depan ke Papa Mama. Yudha harus kasih tau langsung ke mereka, dan harus paksa mereka datang ke sana. Harus! Yudha udah lama gak pergi sama-sama Papa… sama-sama Mama…

Aduh! Udah jam sebelas malam? Pantesan aja Yudha ngantuk. Tapi… Yudha gak boleh tidur. Yudha harus nungguin Papa sama Mama pulang! Harus… nunggu… Zzz… zzz…

***

”Ya ampun… Kenapa Yudha tidur di sini?”

“Mella itu bagaimana, sih. Kita bayar dia untuk menjaga Yudha, mengatur Yudha! Lha ini, Yudha malah dibiarkan saja tidur di sini.”

“Keterlaluan. Mella! Mella!”

Aduh… Yudha kan lagi tidur… Kok ada suara teriak-teriak, sih…? Yudha ngantuk, nih…. Siapa, sih, yang teriak? Yudha bangun, ah…

”Mmm… Papa… Mama…”

”MELLA!!” Teriak Papa dengan marah. Huh! Papa gak perduliin Yudha yang udah bangun. Sebel! Tapi… Rupanya Mama tau. Buktinya, Mama langsung menghampiri Yudha. Tapi…

”Yudha… Nak… Kenapa kamu tidur di sini, sih? Kak Mella, mana?” Tanya Mama khawatir.

”Iya, Tuan! Sebentar…” Akhirnya, terdengar suara buru-buru Kak Mella. Kasian, kayaknya Kak Mella kaget denger suara Papa.

”Papa… jangan teriak-teriak… Yudha kan, lagi tidur…”

”Yudha!” Tiba-tiba, Papa berteriak pada Yudha. Yudha jadi takut, nih… “Ngapain kamu di sini?!”

“Papa… jangan berteriak sama anak sendiri!” Kata Mama sambil memeluk Yudha. Hmm… Udah lama Mama gak peluk Yudha. Rasanya tenang…

”Yudha… Yudha lagi nunggu Papa sama Mama pulang… makanya Yudha tiduran di sini. Kak Mella udah Yudha suruh tidur duluan…” cicitku ketakutan. Mudah-mudahan, setelah Yudha jawab, Papa gak teriak-teriak lagi. Kuping Yudha jadi sakit, nih…

Sekarang, Mama yang berbicara. ”Kenapa Yudha nunggu Papa sama Mama pulang, Nak?”

Malu-malu, Yudha ambil tiga buku tulis sama selembar kertas di atas meja. Trus Yudha kasih ke Mama.

”Ini semua nilai ulangan Yudha, Ma. Hari ini, Yudha dapet sepuluh semua, lho! Makanya, Yudha tunggu Papa sama Mama pulang supaya bisa tau nilai Yudha. Yudha sekarang udah bisa perkalian lho, Ma!”

Yudha bisa melihat senyuman Mama. Hmm… Mama pasti bangga sama Yudha. Dan Papa… Kok malah melongo? Kak Mella udah berdiri takut-takut di belakang Papa.

”Trus… Kalo kertas ini… Ini undangan untuk acara ulangtahun sekolah, Ma. Nanti, Yudha ikut nyanyi lho, Ma! Mama sama Papa harus datang, ya! Semua orangtua temen-temen Yudha soalnya datang…”

Habis Yudha berbicara, semuanya diam. Bahkan senyuman Mama ikut hilang. Huh… Pasti deh, mereka gak mau datang…

”Yudha datangnya sama Kak Mella aja, ya…” kata Papa pelan. Kan bener! Papa gak mau datang…

”Gak mau! Yudha maunya Papa sama Mama datang! Gak boleh kerja! Yudha udah janji sama temen-temen Yudha kalo Yudha pasti datang sama orangtua, bukan sama Kak Mella!”

”Yudha, sayang… Papa Mama harus kerja…”Mama mencoba nenangin Yudha. Tapi gak bisa. Yudha sekarang sedih, marah!

”Emangnya kerja harus setiap hari, Ma? Kok, Papa Mamanya temen-temen Yudha gak sama kayak Papa Mama?”

Uh… Sebel! Papa sama Mama lebih sayang kerja daripada Yudha! Yudha jadi mau nangis…

”Hiks… Papa sama Mama gak sayang Yudha… Papa Mama lebih sayang kerja daripada sama-sama Yudha… Huaaa… HUAAAA…!!”

”Yudha…” ucap Papa sambil duduk di samping Yudha. Mama sekarang mengelus-elus kepala Yudha. Enak, sih. Tapi… lebih enak lagi kalo mereka bisa datang… Kan Yudha udah janji sama temen-temen mau ajak orangtua…

”Yudha sayang… Papa sama Mama… mau datang, kok…” Kata Mama lembut. Yudha langsung liatin Mama. Papa juga.

”Bener?”

”Iya, sayang… nanti Papa sama Mama datang… Yudha jangan nagis lagi, ya…”

Asyik! Papa sama Mama mau datang!

”Datang ya, Papa… Mama… Nanti liat Yudha nyanyi! Fotoin Yudha ya, Pa! Hihihi… Yudha seneng deh!”

Yudha betul-betul senang malam ini. Papa sama Mama janji mau datang ke sekolah dan liat Yudha nyanyi. Yah… janji… Dapat janji aja Yudha udah seneng…

Diterbitkan di: on at 7:24 am Komentar (2)

Insomnia

Untuk yang kesekian kalinya dalam minggu ini, Vian terbangun di malam hari dengan napas ngos-ngosan, jantung berdegup kencang, dan tangan menepuk pipi mulusnya berkali-kali. Dan setelah ia bangun dari tidurnya itu, Vian pasti gak bisa kembali tidur dengan tenang. Setelah bangun secara tiba-tiba itu, kata-kata yang sama selalu melintasi pikirannya.

 

Dia siapa? Kok, cara munculnya nyeremin gitu, sih? Kayak setan, tiba-tiba datang! Aduh… kalo tiap malam kayak gini terus, bisa-bisa gue kurang tidur!

”Sebel, sebel, sebel, sebeeel!! Gue yakin dia cowok! Tapi gue gak yakin dia manusia. Argh… Pokoknya, kalo sampe minggu depan gue gak nemuin arti mimpi jelek ini, gue gak bakal mau tidur selama-lamanyaaa!!” Teriak Vian saking merasa tersiksanya dengan mimpi yang selalu saja sama setiap malam. Kalo udah gini, Vian langsung berjalan menuju jendela kamarnya dan membukanya. Vian menarik kursi yang ada di dekat meja belajarnya ke jendela sebelum kemudian duduk di situ.

Hari ini bulan sabit terlihat sangat terang di langit malam. Vian menoleh ke bawah. Taman di rumahnya yang selalu Bunda rawat dengan baik tetap memancarkan pesona keindahannya di malam hari. Vian tersenyum melihat keindahan malam ini. Ia kembali mendongakkan kepalanya untuk melihat bulan sabit di antara bintang-bintang.

”Langit malam… bulan… bintang… kapaaan gue bisa tidur tenang…?”

*

”Sumpah, Fel, gue udah gak tahan lagi!” Seru Vian begitu sampai di sekolah pagi ini. Felly, sahabat karibnya yang sedang asyik menggosip dengan Icha dan Karin kontan aja langsung menoleh ke pintu kelas dengan raut wajah yang luar biasa shock. Gimana gak shock?! Orang mereka lagi seru-serunya ngerumpiin si Irene yang baru aja diputusin sama Rio cuman gara-gara Irene numpahin minuman ke kemeja cowoknya itu secara tak sengaja.

”Aduh… Pengacau ketentraman di pagi hari datang!” Gerutu Felly setelah sadar dari shock yang menimpanya. ”Cha, Rin, ntar kita sambung lagi, ya! Gue ngurusin si bawel Vian dulu! Kalo ada kabar baru, jangan lupa kasih tau gue, ya!”

”Beres…” sahut keduanya kompak. Felly mengacungkan kedua jempolnya dan berlari kecil menghampiri meja Vian.

”Kenapa lagi sih, rese??”

”Mimpi gue! Makin gila aja, tuh. Makin nyeremin! Mana tuh cowok pake acara panggil-panggil nama gue, lagi! Ih… setan banget… Merinding gue…” celoteh Vian cepat. Begini ini yang bikin Felly musti ekstra sabar menjadi tong sampahnya Vian. Kalo ngomong, Felly mengukur kecepatan suara sobatnya ini sampe lari 120 km/jam! Terlalu hiperbolis, tapi emang begitu. Cepet banget.

”Gimana, sih? Coba lo ceritain lagi ke gue. Gue rada-rada lupa sama mimpi lo itu…” Kata-kata Felly ini benar-benar bikin Vian kesel. Nih anak… Gak perhatian banget sih, sama gue!

“Jadi…”

“Eits… Tunggu dulu!” Potong Felly cepat sebelum Vian memulai ceritanya. ”Jangan kayak kaset dicepetin, ya. Biar gue cepet ngerti.”

”Iya, iya! Ngeselin lo!” Ucapnya ketus sebelum kemudian menarik napas panjang dan bercerita. ”Jadi… Gue ada di sebuah tempat. Sendirian. Sepi. Sunyi. Yang ada cuman hembusan angin yang lumayan kencang. Gue di situ kayak lagi nyari sesuatu. Trus… tiba-tiba aja, ada yang nepuk bahu gue dari belakang. Dan tadi malem, dia manggil nama gue pake suara dalamnya itu…” Vian mengosok tengkuknya, merinding sendiri dengan ceritanya. ”Dia bilang… ’Vian… sekarang saatnya…’. Hieeey!! Maksudnya apaaa coba?!”

Felly mendengus keras. ”Vian… Rusak deh suasana mistisnya!”

”Mistis apaan? Udah, ah! Lo bantuin gue dong, Fel…”

“Mmm…” Felly mengetuk dagunya dengan telunjuk. ”lo pernah punya janji sama siapaaa gitu…?”

Vian mencoba mengorek seluruh memorinya. Seingat cewek berambut hitam panjang itu… dia gak pernah bikin janji dengan siapa pun. Kecuali…

”Gue pernah janji sama Eyang untuk terus rajin belajar!”

”O’on… Capek deh, gue ngomong sama elo…” Felly mencubit pipi Vian saking geramnya. ”Bukan janji yang begituan… yang lebih… apa, ya? Lebih serius… ato punya arti penting dan khusus dalam hidup elo, gitu…”

”Ngg…” Vian mencoba memeras otaknya lagi. Arti penting… janji… apaan, ya…? Kok kayaknya gak ada… apa gue yang pikun? Duh…

Akhirnya, Vian menggeleng, pasrah. Felly juga menggeleng sambil menatap Vian dengan kedua alis terangkat.

”Bakalan lama, deh…” Keluh Felly sambil menghela napas. ”Kayaknya lo mesti sabar ngadepin mimpi-mimpi itu. Mungkin aja itu suatu petunjuk. Lo bilang… tadi malem di mimpi lo ada tambahannya, kan? Tuh cowok ngomong sama elo. Nah, mungkin aja malam ini dia ngomong lebih banyak daripada ’sekarang saatnya’ itu. Ya, kan?”

Vian hanya bisa meringis mendengar celotehan Felly yang kedengarannya seperti menyuruh Vian untuk ”go to hell”.

*

Seorang cowok terlihat sedang mencari-cari sesuatu dengan gelisah. Berkali-kali ia melirik arlojinya dan menengok sekeliling. Tapi sepertinya, apa yang ia cari belum juga muncul di hadapannya. Kebiasaan orang Indonesia yang paling gawat. Ngaret! Awas lo, Al…Grr…

”David, my man! Sorry, bro! Jalanan di Jakarta sama yang namanya macet emang sobatan kental. Yah… harap maklumlah…” Seru cowok yang baru saja datang dan mengagetkannya. Dave langsung menunjukkan raut wajah kesal.

”Gitu? Pesawat gue mendarat satu setengah jam yang lalu! Come on, Alfi! Satu setengah jam! Siapa yang tahan nunggu selama itu di bandara? Mana elo pake acara gak laporan, lagi! Tau elo bakal jemput selama ini, gue pasti udah ambil taksi dari tadi! Ah…” David menjitak kepala teman lamanya. Alfi balas menjitak dan merangkul David.

”Udahlah. Nasi udah jadi bubur gitu! Yang jelas, sekarang… Welcome back to Indonesia, my friends! Cabut, yuk!”

“Bantuin angkat barang-barang gue, Dul!” Lagi-lagi, David menjitak jidat Alfi.

”Sialan, lo!” Sambil membawa satu ransel besar dan satu koper besar serta beberapa kantong oleh-oleh, mereka berjalan menuju mobil Alfi yang diparkir.

”Langsung daftar ke sekolah gue, kan? Lo jadi masuk sekolah gue, kan?” Cerocos Alfi ribut sambil menyetir.

”Pastinya. Ngapain gue milih sekolah di tempat yang murid-muridnya gak ada yang gue kenal? Lagian, mutu sekolah elo lumayan bagus, gue denger!”

”Kalo gue gak jadi murid di situ, tuh sekolah gak bakalan terkenal! Secara… OSIS yang gue pimpin selalu sukses ngadain acara! Hahaha…” Ujar Alfi dengan bangganya.

”Al…” nada suara David terdengar serius. “Cewek gue… bener-bener satu sekolahan sama elo, kan?”

”Cewek elo?” Ulangnya dengan nada mengejek. ”Kapan? Lima taon yang lalu?Hah…”

”Gue serius, Al. Tujuan gue balik ke sini cuman satu…” David mengelus gelang rantai di tangan kirinya. “untuk memenuhi janji yang udah gue buat… dan juga menagih apa yang seharusnya gue miliki dari dulu…”

Lama keduanya terdiam. Yang terdengar hanyalah lagu The Ghost Of You nya My Chemical Romance.

 

 

 

“Cewek lo… masih satu sekolah sama gue…” jawab Alfi akhirnya dengan suara pelan. David tersenyum kaku.

*

“Vian… Sekarang saatnya…”

“Saat apa? Kamu siapa?”

”Hmm…” Bibir merah cowok itu tertarik membentuk sebuah senyuman manis, sekaligus terlihat sedih. ”Kamu sudah lupa, Vian?”

Vian menggeleng tak mengerti. ”Lupa… apa…?”

Tiba-tiba saja cowok itu mengangkat tangan kirinya, membuat Vian kaget dan akhirnya…

”Jangan tampar gueee!!” Jerit Vian keras sekali. Napasnya ngos-ngosan, seakan baru saja berlari jauh. Jantungnya berdegup kencang, dan keringat dingin mengalir melewati pelipisnya.

Sedikit lagi… batinnya. Tinggal sedikit lagi… kayaknya gue bakalan tau arti mimpi itu. Tapi… kenapa cowok itu ngangkat tangannya?

*

”Vian, Vian, Vian!” Felly menarik Vian yang baru sampai di sekolah untuk bergabung dengan kerumunan cewek-cewek yang duduk di sudut kelas. ”Lo mesti tau sama berita paling hot pagi ini!”

”Apaan, sih? Gue ngantuk…” Mata Vian memang terlihat agak cekung. Tapi Felly tak memusingkan hal ini.

”Rin, jelasin!”

Karin lalu berbicara dengan semangat menggebu-gebu. ”Gue… tadi… liat… cowok keren di ruang kepala sekolah! Keren banget! Muka bule!”

”Udah? Itu doang?” Vian mau berdiri untuk duduk di mejanya, tapi dihalangi oleh Felly.

”Vian… Lo denger dulu kabar yang lebih gila lagi!”

”Apa?”

”Pas nguping… gue denger si keren masuk… KELAS KITA!!” Dan semua cewek, kecuali Vian, bersorak senang mendengar penuturan Karin barusan.

”Ya… ya… ya… Gue lagi gak mood bicarain cowok keren. Kursi gue udah manggil gue… untuk tidur…” Vian berjalan menuju mejanya di baris keempat dari depan dan langsung meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya dengan damai. Felly segera menyusul Vian.

 

“Mimpi itu lagi?”

 

Vian mengangguk sambil terpejam. “Kayaknya… ntar lagi… gue tau maksud cowok itu…”

 

“Mukanya udah keliatan, ya? Ganteng, gak?” Tanya Felly antusias sambil mengambil tempat di sebelah Vian.

”Boro-boro, Fel… yang nampak cuman dagu sma bibir merahnya…”

”Berarti orang ganteng, Vi!”

”Gak peduli… Gue mau tidur, ah! Cowok yang bikin insomnia gue kambuh lagi gini pasti cowok jelek! Gue sumpahin matanya belekan seumur hidup, baru tau!” Umpatnya lumayan keras. Felly hanya menggeleng-gelengkan kepala, dan pergi untuk kembali bergabung dengan cewek-cewek lain, meninggalkan Vian yang mulai masuk ke alam mimpi.

*

”Vian… Vivian…”

”Ntar lagi, Mama… Vian masih ngantuk… tadi malem gak bisa tidur… gara-gara mimpi… si cowok jelek…” gumam Vian tanpa sadar. Samar-samar, telinganya menangkap suara tawa keluar dari mulut lebih dari satu orang.

”Vivian… kamu harus bangun sekarang, atau saya hukum berdiri di depan tiang bendera sampai jam pulang sekolah.”

”Hah?!” Vian terkejut dan segera mengangkat kepalanya. Ia melihat Bu Ningrum sudah berdiri di depannya dengan muka merah dan hidung kembang kempis.

”Ma… maaf, Bu… jangan dijemur, ya…”

Koor ”huu…” keras menggema dari mulut teman-teman sekelasnya. Bu Ningrum kelihatannya mati-matian bersabar agar amarahnya tidak dimuntahkan keluar. Bu Ningrum hanya menjewer kedua telinga Vian sebelum kemudian berjalan ke depan kelas.

”Nah, David. Kamu duduk di sebelah Vian, yang baru bangun tidur lagi,” ujar Bu Ningrum kejam kepada sosok tak dikenal yang berdiri di depan. Vian cemberut. Teman-temannya kembali tertawa. Cowok yang bernama David itu lalu berjalan menuju meja Vian dan duduk di sebelahnya. Sebuah senyum tersungging di wajah bulenya yang cool. Vian mengamati cowok itu dengan mulut sedikit terbuka.

Senyum itu… kayaknya pernah gue liat. Katanya dalam hati. Tapi… Di mana, ya…? Familiar banget…

”Vian…” cowok itu menybut nama cewek yang duduk di sampingnya sambil tetap tersenyum. Vian semakin tersihir saja begitu mendengar suara David. Suara ini juga pernah gue denger. Tapi di mana…??

”Vivian! Maju ke depan dan kerjakan latihan enam!” Perintah Bu Ningrum galak. Mendengar itu, Vian langsung mengatupkan mulutnya dan mengeluh.

*

”Dia gak kenal sama gue,” ucap David putus asa saat pulang sekolah. Ia menumpang di mobil Alfi. ”Gue panggil namanya, dia cuman senyam-senyum gak jelas, mandangin gue seakan-akan baru pertama kali ketemu…”

”Wajarlah… udah lima taon gak ketemu. Penampilan elo sekarang tuh beda sama yang dulu,” Alfi mencoba menenangkan sahabatnya.

”Kalo gitu… gimana gue bisa nagih janji dia…?” David berkata dengan perasaan merana.

*

”Iya, Fel. Gue kayaknya pernah ketemu David, deh. Tapi… Di mana, ya?”

”Inget-inget lagi, dong…”

Vian memindahkan ponselnya ke telinga kiri sambil berjalan mondar-mandir di sebuah tanah lapang di depan rumahnya. Tangan kanannya memegang kalung rantai yang tak pernah lepas dari lehernya.

”Aduh… Pusing, Fel! Gak inget-inget!”

”Yee… Masih muda udah pikun! Gimana kalo tua?” Kata Felly sedikit kesal. ”Mmm… dia temen masa kecil elo kali, Vi!”

”Vian manggut-manggut. ”Bisa jadi… gue udah lupa siapa-siapa aja temen gue dulu…”

”Vivian… kapok gue…! Jadi kalo elo pisah sama gue, lo juga bakal lupain gue??”

“Ya nggaklah! Mana bisa gue lupain si Ratu Gosip! Udah, ya. Pulsa gue limited edition, nih!”

“Yee… udah tau limit, pake acara konsultasi sama gue! Ya udah, selamat berpikir, Vian…”

“Sirik!” Klik! Sambungan terputus. Vian berjalan ke bawah sebuah pohon di tengah lapangan. Siapa, ya…? Aduh… cepet tua deh, gue… kebanyakan mikir!

Tiba-tiba saja, ada seseorang yang memegang pundak Vian dari belakang, membuat cewek itu tersentak kaget. Jantungnya berdegup sangat kencang. My God…! Mirip sama kejadian di mimpi gue…!!

“Vian…” Sapa orang itu pelan. Suara cowok…

Pelan-pelan, Vian membalikkan badannya. Dan… Ia menemukan sosok David berdiri tepat di belakangnya. Mendengar suaranya, Vian jadi tergagap sekaligus heran.

“Ap… mmm… mmm… Dave… David. Ngapain lo… di sini…?”

David menarik napas panjang. “Rupanya kamu bener-bener lupa…”

Lupa? Lupa apa? Emang ada apa?

“Vian… kamu ingat sama aku?” Tanya David serius. Vian menaikkan sebelah alisnya, heran mendengar pertanyaan David. Dengan sangat pelan, Vian menggeleng.

“Kamu betul-betul gak inget?” Ulang David sekali lagi. “Kalo gitu, kamu inget sama ini?” David mengakat tangan kirinya, memperlihatkan gelang rantainya dengan kunci kecil menggantung di sana. Vian menutup mulutnya. Kunci itu… kayaknya gue kenal, deh! Tapi… gak mungkin banget, kan?

David lalu berjalan ke belakang Vian, menyibak rambut cewek itu dan mencari sesuatu di lehernya. David tersenyum melihatnya. “Gemboknya masih ada di sini… Aku buka, ya?”

Setelah berkata begitu, David melepas gelang rantainya dan memasukkan kunci kecil yang ada di rantai itu ke gembok yang ada di belakang leher Vian. Dan… Gemboknya terbuka! Vian terkejut bukan main. Tapi… ia masih belum bisa mengingat orang ini. Atau mungkin belum yakin dengan ingatannya.

“Dave…” Vian akhirnya membuka mulut. “Yang… yang bisa buka gembok itu cuma… cuma Bagas…”

“Dan Bagas itu aku,” sambung Dave sambil tersenyum. “David Bagaskara. Itu nama lengkapku.”

“Bagas?!” Barulah sekarang Vian memekik terkejut sekaligus senang. Akhirnya, orang yang selama ini ia tunggu dan ia rindukan kembali juga padanya.

Dan, saat inilah Vian ingat kalau ia punya janji. Janji yang sangat penting. Mimpi-mimpi yang membuat insomnianya kambuh lagi itu ternyata merupakan sebuah petunjuk. Barulah setelah menyadari itu semua, Vian menghamburkan pelukannya pada Bagas.

“Jahat bener kamu, Gas! Pulang gak bilang-bilang. Mana pake acara muncul di mimpi segala, lagi! Kayak setan pula, munculnya! Insomniaku jadi kambuh! Sebel, sebel, sebel!” Tak terasa, Vian menetskan airmata. David mengelus lembut tubuh cewek itu.

“Yang penting aku udah menuhin janjiku untuk pulang… ya, kan? Dan sekarang… aku mau nagih janji ke kamu. Aku minta ‘kotak harta’…”

Vian melepaskan pelukannya. Waduh… Kotak harta?! Gue kubur di mana, ya…?

“Ngg… Pas ngubur kotak hartanya kan sama-sama kamu… Aku gak inget… tempatnya…” ucap Vian sambil nyengir. David mengusap puncak kepala cewek itu.

“Kok bisa gak inget, Vian?? Tepat di bawah kaki kamu…”

“Kok tau?”

Sebagai jawaban, David menunjuk batang pohon besar. Di situ terdapat torehan berbentuk anak panah yang mengarah ke bawah. “Aku yang bikin, supaya kita ingat.”

Vian tersenyum pada cowok itu. Sekarang mereka melihat ke bawah, dan berpikir. “Tanahnya… Mau digali pake apa…?”

David berjalan ke sisi lain pohon dan kembali berdiri di sambing Vian dengan sebuah cangkul.

“Hihihi… Niat bener kamu, Gas!”

“Lho… Hari ini memang tanggal kita janjian ketemu lagi, kan… Masa kamu lupa juga?” David menggeleng heran pada cewek di depannya. Perasaan, dulu pikunnya Vian gak separah ini…

Setelah menggali tanah selama beberapa menit, akhirnya “kotak harta” itu keliatan juga. Vian segera menariknya ke atas. Sebuah toples kacaberbentuk persegi yang entah bagaimana caranya dililit dengan rantai dan digembok.

“Cepetan buka gemboknya, dong! Gue udah gak sabar liat isinya!” Seru David bersemangat. Vian langsung mengulurkan kalungnya kepada David sambil menebak-nebak. Gue nulis apaan, ya…?

Setelah toplesnya terbuka, David menarik keluar semua isi toples itu. Ternyata isinya foto-foto ia dan Vian saat kecil dulu dan juga secarik kertas. David membaca tulisan di kertas itu bersama Vian.

Bagas… sesuai perjanjian, aku tulis hal paling aku inginkan terjadi di kertas ini, sementara kamu mengatakannya langsung ke aku. Yang aku mau sebenarnya cuma… kamu terus ada di sini, gak pergi ke mana-mana. Kamu gak boleh pindah ke kota lain. Aku bisa kesepian di sini, Gas…

Dan… Untuk menjawab permintaanmu tadi… Waktu kamu bilang kalo kamu punya perasaan khusus ke aku… jantungku berdetak kencang. Aku cuma mau bilang kalo… kemungkinan besar, aku juga merasakan hal yang sama kayak kamu. Dan… Kalo kamu balik nanti… aku ingin kita berdua bisa seperti kakakmu dan Mas Reno. Semoga…

Selesai membaca isi kertas itu, Vian langsung membuang muka, malu. Sementara David menoleh ke arahnya sambil tersenyum.

“Jadi…” kata David dengan sedikit menggoda. “Itu bener, yang kamu tulis? Kamu mau kita seperti Mbak Asri dan Mas Reno?”

Vian tidak menjawab. Ia masih tidak mau menatap wajah David.

“Vian… Jawab, dong…”

Dan akhirnya, Vian mengangguk pelan. “Itu… keinginanku sejak dulu…”

David merangkulnya dari belakang. I love you, Vian…”

Love you too…

“Vian…” Lagi-lagi nada suara David terdengar nakal. “kalo kamu beneran mau kayak mereka… Asal kamu tau aja, mereka sekarang udah punya satu anak, lho…”

“APA?!” Vian membelalakkan mata mendengar penuturan David tersebut. ” Bagas nakal, iiiih…!!”

Diterbitkan di: on Juni 17, 2007 at 5:24 pm Komentar (1)

Horee!! My newest blog!

Assalamu’alaikum semuanya…

Horeee! Yang mengunjungi… This is my second blog. My first blog? Urgh… Forget it. PoeTry udah lupa sama passwordnya. Bahkan, PoeTry sangsi sama email yang Ty pake untuk buat blog itu. Soalnya, PoeTry salah satu orang yang gemar gonta-ganti email, sih… Hehehe…

Okelah! Cuman sekedar acara peresmian blog baru sajah (cie cie…). Selamat datang di “TEMPAT TERINDAH POETRY”… Enjoy it!

_*_PoeTry~4u_*_

Diterbitkan di: on at 4:33 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Diterbitkan di: on at 3:28 pm Komentar (1)